If Social Media Toxic for You (Hari Media Sosial Nasional)
by
Anastasya Ayu Wibowo
- 6/09/2019 10:53:00 am
![]() |
| Gambar berasal dari Koleksi Pribadi |
Sebenarnya ini merupakan sebuah pengembangan dari thread yang pernah saya buat di twitter waktu itu tentang beberapa akun atau platform yang akhirnya memberikan sikap positif bagi saya secara pribadi beberapa waktu belakangan ini. Sebelumnya akan saya beri tahu bahwa ini worth-it bagi saya tapi belum tentu worth-it untuk kalian. Hampir semuanya merupakan hasil karya anak Indonesia. So, coba aja kali ya.
Sebelum masuk ke point intinya, saya akan bahas dari hal yang paling sederhana terlebih dahulu, yaitu Judul. Kenapa saya memberikan judul, "If Social Media Toxic for You" ? Alasan simple nya karena saya merasa bahwa sosial media adalah racun bagi diri saya. Kenapa bisa ngerasa kaya gitu? Kalau di tarik garis ke belakang, 2-5 tahun yang lalu nggak ada tuh orang yang bilang kalau sosial media adalah toxic. Kalaupun ada itu nggak banyak, ya kan? Tapi sekarang, banyak banget orang yang bilang Social Media Toxic,
Social Media Toxic,
Social Media Toxic,
Social Media Toxic.
dan-se-te-rus-nya.
Pengalaman saya pribadi, namanya nyala-matiin Instagram itu bukan suatu hal yang baru buat saya. Gonta-ganti akun LINE pun sering banget. Beberapa orang yang sudah cukup kenal lama dengan saya pasti tau kalau saya sering banget ngelakuin hal tersebut. Bagi diri saya sendiri, kenapa saya bisa seperti itu karena saya itu termasuk orang yang cepat banget merasa bosan. Kurang lebih di tahun 2015-an akhir saya tuh sudah merasa bosan bermain instagram, akhirnya kesemua sosial media jadi ikutan malas, juga. Akhirnya men-challenge diri sendiri untuk nggak buka handphone selama satu hari. Kejutannya, bisa dong ngelewatin itu semua. Tanpa handphone semua baik-baik aja. Naik nyoba jadi seminggu, makin merasa baik-baik aja. Sampai akhirnya pernah hampir sebulan yang namanya handphone di letakin begitu saja. Semakin kesini, namanya istirahat sosial media jadi sebuah rutinitas aja. Disaat sudah ngerasa nggak enak, bosan, atau udah misuh-misuh sendiri yaudah itu berarti saatnya untuk istirahat aja dulu.
Setelah beberapa tahun, sampai lah pada titik dimana (mungkin ini ke doktrin, sih) masa nya bilang kalau Social Media Toxic. Merasa kalau itu adalah toxic pada saat dimana kerjaan saya setiap hari adalah stalking, atas sampai bawah di buka terus, di gali terus, penasaran banget deh pokoknya. Tapi, di sisi lain kecapekan sendiri. Capek kan over thinking, mikirin hal-hal segala macem, nyalahin diri sendiri, insecure pastinya, termasuk stress juga saat itu. Pokoknya itu ada di masa yang dengan bangga saya akui itu adalah masa terburuk saya selama di bangku kuliah. Sampai akhirnya saya merasa bahwa si A, B, CDEFGH dan seterusnya merupakan racun juga untuk hidup saja. Pokoknya saya melakukan banyak cara, mulai dari hapus-menghapus, block sana-sini, hide mute sudah pasti dilakukan. Pokoknya saya harus melakukan apapun itu caranya agar saya tidak perlu lagi melihat atau mengetahui tentang si A, B, CDEFGH dan seterusnya Jelas keliatan sangat egois, bukan?
Tapi dengan bangga saya mengakui lagi bahwa cara-cara tersebut berhasil. Perlahan semuanya terasa lebih tenang, gitu. Saya dapat kembali mengontrol diri saya harus ada dimana.
Bagian selanjutnya masuk ke tahap, dimana saya mulai sadar secara perlahan, "If Social Media Toxic for You" ya itu sebenarnya karena diri lo sendiri yang terlalu memaksakan sesuatu hal yang sebenarnya itu tidak cocok atau belum saatnya untuk diri lo.
Contohnya gini deh, Lo di Instagram follow akun-akun gosip, dimana secara sengaja lo memaksa diri lo sendiri untuk melihat atau membaca banyak ujaran kebencian terhadap sesuatu hal. Ketika lo baca comment deh di salah satu post akun gosip, pasti 'kan pernah gitu kita misuh-misuh sendiri waktu membacanya dan itu secara natural tertanam sama diri lo. Semacam bawaannya nggak suka mulu, marah-marah terus, padahal mereka bukan siapa-siapa lo. Kenal aja enggak, kan?
Contoh kedua deh, ketika lo follow salah satu influencer di Instagram, tapi semua yang dia post itu isinya sebenarnya nggak salah. Upload kehidupan sehari-hari kan nggak salah. Cuma pasti lo bakal merasa memiliki ekspektasi terlalu tinggi, gitu. Ya, jadi ujungnya setiap saat cuma bisa misuh-misuh sambil ngeliat stories si influencer di Instagram tersebut.
Akhirnya saya pun sadar, mau ngapain follow-follow akun yang seperti itu. Impact ke diri saya apa? Toh, selama ini saya cuma merasa dikit-dikit "ih enak banget ya dia" Gitu aja terus, mau sampai kapan coba? Ada beberapa tips yang berasal dari pengalaman pribadi untuk teman-teman yang sekarang merasa bahwa sosial media adalah racun.
Pertama, coba aja dulu istirahat menggunakan sosial media untuk beberapa waktu. Benar-benar istirahat tanpa mencoba akun second kalian atau apalah itu. Fokus sama dunia nyata kalian. Terserah mau me-time atau hangout sama teman-teman. Pokoknya sibukin diri kalian ke arah hal-hal yang positif. Point pentingnya, nggak usah peduli omongan orang lain, fokus aja untuk diri sendiri.
Kedua, kalau kalian terjebak di pertemanan sosial media dengan satu, dua, tiga dan berapa pun itu dan merasa kalau apa yang dia share itu nggak sesuai sama kalian, isi nya mengganggu, atau terlalu banyak yang tidak bermanfaat dan setiap kalian ngeliat itu bawaannya kayak,
"ish apaan sih."
yaudah, stop follow dia. Simple, kan? atau kalian tetap merasa gaenakan yaudah mute atau hide aja. Nggak usah buang-buang waktu kalian untuk bertahan melihat sesuatu yang bukan kalian banget.
Ketiga, termasuk penting dan bisa menjadi lanjutan dari tips kedua, yaitu sortir apa saja yang kalian ikutin hari ini. Lakukan cross-check, kira-kira apa yang akan didapatkan ketika kalian mengikuti akun tersebut?
Kurang-kurangin aja dulu untuk mengikuti akun-akun gosip atau influencer. Misal, aku sangat mengurangi sekali mengikuti influencer yang isinya cuma berbagi kegiatan sehari-hari atau paid promote. Ya, semua nya balik lagi sih, kalau saya pribadi melihat hal-hal seperti itu nggak perlu setiap hari juga. Tapi kalau kalian perlu, ya silahkan. Pokoknya semua balik lagi sama diri kalian, di bagi-bagi hal apa saja yang kalian butuhin, kalian mau, sama untuk hiburan.
Keempat, lanjutan dari yang atas. Coba diingat-ingat lagi kalian tuh suka apa, hobby kalian itu apa, terus minat kalian itu kemana. Contohnya, saya suka sama kegiatan yang sifatnya sosial maka dari itu saya banyak mengikuti akun atau platform yang fokusnya kearah sana. Terus saja juga suka nih sama musik, yaudah saya ikuti akun atau platform yang menyediakan tentang informasi musik, saya suka baca nih, ya saya ikutin banyak creative-writers. Intinya coba disesuaikan sama apa yang kita butuh dan suka. Salah satu impact-nya adalah diri kita sendiri akan terdorong juga untuk menghasilkan sebuah karya dari apa yang kita suka karena kita melihat orang-orang yang sudah punya karya dan terus menghasilkan karya.
Kelima, gunakan semaksimal mungkin akun sosial media kalian sebagai tempat kalian menghasilkan sesuatu. Mau itu berupa karya atau keuntungan lainnya. Gunakan dengan sedemikian rupa sosial media kalian sebagai portofolio untuk memperkenalkan siapa diri kalian sebenarnya. Tidak ada larangan atau batasan untuk "menjual diri" kalian di sosial media.
Pertama, coba aja dulu istirahat menggunakan sosial media untuk beberapa waktu. Benar-benar istirahat tanpa mencoba akun second kalian atau apalah itu. Fokus sama dunia nyata kalian. Terserah mau me-time atau hangout sama teman-teman. Pokoknya sibukin diri kalian ke arah hal-hal yang positif. Point pentingnya, nggak usah peduli omongan orang lain, fokus aja untuk diri sendiri.
Kedua, kalau kalian terjebak di pertemanan sosial media dengan satu, dua, tiga dan berapa pun itu dan merasa kalau apa yang dia share itu nggak sesuai sama kalian, isi nya mengganggu, atau terlalu banyak yang tidak bermanfaat dan setiap kalian ngeliat itu bawaannya kayak,
"ish apaan sih."
yaudah, stop follow dia. Simple, kan? atau kalian tetap merasa gaenakan yaudah mute atau hide aja. Nggak usah buang-buang waktu kalian untuk bertahan melihat sesuatu yang bukan kalian banget.
Ketiga, termasuk penting dan bisa menjadi lanjutan dari tips kedua, yaitu sortir apa saja yang kalian ikutin hari ini. Lakukan cross-check, kira-kira apa yang akan didapatkan ketika kalian mengikuti akun tersebut?
Kurang-kurangin aja dulu untuk mengikuti akun-akun gosip atau influencer. Misal, aku sangat mengurangi sekali mengikuti influencer yang isinya cuma berbagi kegiatan sehari-hari atau paid promote. Ya, semua nya balik lagi sih, kalau saya pribadi melihat hal-hal seperti itu nggak perlu setiap hari juga. Tapi kalau kalian perlu, ya silahkan. Pokoknya semua balik lagi sama diri kalian, di bagi-bagi hal apa saja yang kalian butuhin, kalian mau, sama untuk hiburan.
Keempat, lanjutan dari yang atas. Coba diingat-ingat lagi kalian tuh suka apa, hobby kalian itu apa, terus minat kalian itu kemana. Contohnya, saya suka sama kegiatan yang sifatnya sosial maka dari itu saya banyak mengikuti akun atau platform yang fokusnya kearah sana. Terus saja juga suka nih sama musik, yaudah saya ikuti akun atau platform yang menyediakan tentang informasi musik, saya suka baca nih, ya saya ikutin banyak creative-writers. Intinya coba disesuaikan sama apa yang kita butuh dan suka. Salah satu impact-nya adalah diri kita sendiri akan terdorong juga untuk menghasilkan sebuah karya dari apa yang kita suka karena kita melihat orang-orang yang sudah punya karya dan terus menghasilkan karya.
Kelima, gunakan semaksimal mungkin akun sosial media kalian sebagai tempat kalian menghasilkan sesuatu. Mau itu berupa karya atau keuntungan lainnya. Gunakan dengan sedemikian rupa sosial media kalian sebagai portofolio untuk memperkenalkan siapa diri kalian sebenarnya. Tidak ada larangan atau batasan untuk "menjual diri" kalian di sosial media.
Kurang lebih ada lima tips yang paling mudah untuk dilakukan disaat sudah merasa bahwa Social Media Toxic for You. Selebihnya itu ada di tangan kalian. Diri sendiri yang mampu menentukan mana yang baik dan tidak baik. Secara alamiah itu akan berlaku sendiri. Nah, di bawah ini ada beberapa akun atau platform sosial media yang menurut saya memberikan nilai positif dari apa yang mereka share.
Yuk boleh dilanjutin bacanya dibawah ini:
- Proud.Project (Instagram)
Folkative itu memang kalau liat feeds, biasanya suka nanyain ke followersnya tentang pendapat suatu hal atau kejadian gitu. Cocok sih menurut saya di follow kalau kalian merasa anak masa kini banget. Sesi diskusi yang biasa di buka sama Folkative juga selalu mengangkat isu-isu masa kini, gitu. Udah gitu plus referensi-referensi yang nggak kalah keren. Ada beberapa sesi yang biasanya nggak bakal di taro di highlights. So, ini wajib banget sih di follow.
Nah, kalau Jouska ini menurut pendapat saya bagus banget sih untuk di follow karena cocok buat dijadikan tempat mencari referensi dan belajar untuk masalah finansial. Buat teman-teman mahasiswa, freshgraduate, atau yang sudah lama kerja dan belum follow ini harus di follow karena bermanfaat banget. Asli. Apalagi yang masih bingung untuk me-manage finansial ala millenial itu gimana.
Greatmind.id ada instagram nya juga tapi saya lebih mengikuti blognya. Banyak banget hal yang dibahas dari berbagai macam orang yang berlatarbelakang berbeda-beda dengan pengalaman yang berbeda juga. Banyak kalimat-kalimat motivasi dan kalimat yang boleh deh di pake buat caption di Instagram.
Kalau ini adalah personal akun. Menurut saya, Kak Alamandas ini perempuan yang cerdas dan sangat menginspirasi banget. Pengalaman yang di share sama kak Alamandas itu hebat banget, lho. Kak Alamandas menjadi salah satu orang yang sangat memacu saya untuk terus grow up.
Siapa sih yang nggak tau Koh Lex ini? Pasti banyak yang tau karena dia sering banget berbagi informasi tentang zodiak-things dan traveling. Tapi selain itu juga, Koh Lex ini sering berbagi tentang tips dan trik yang bermanfaat banget contohnya kayak cara membalas dan mengirim e-mail. Nah, cocok banget kan untuk di ikuti oleh dara-dara muda.
Ini termasuk penting nggak penting sih. Tapi buat saya penting karena akun ini beneran mengingatkan saya tentang betapa pentingnya #SimpleActBigImpact. Oiya contoh-contohnya juga pernah saya tulis disini, silahkan juga di baca. Menyadarkan bahwa kita hidup di bumi ini nggak sendiri. Mereka yang ada diluar sana juga di ciptakan untuk hidup. Sama-sama ada karena untuk menjaga dan menikmati. Mereka berhak hidup sebebas kita.
Nggak tau harus deskripsiin seperti apa untuk Menjadi Manusia. Pokoknya ini beneran ngasih impact gimana caranya memanusiakan manusia. Instagram ada, Podcast ada, Youtube apalagi. Lebih sering liat di youtube nya sih karena banyak cerita-cerita dari orang lain dan belajar untuk nggak langsung ngejudge asal-asalan siapapun itu yang kita temui atau kita lihat. Kita semua sama.
Nah kalo ini dokter yang sering sharing tentang jurus sehat ala Rasulullah. Sering ngasih resep-resep makanan minuman sehat yang nggak muluk-muluk, di dapur juga ada banyak bahan-bahannya.
Kalau di instagramnya lebih fokus ke info-info schedule aja sih. Jadi lebih baik langsung ikutinpodcast nya, ya. Sama aja sebenarnya kayak podcast pada umumnya, tapi karena saya senang aja dengerin orang ngomong apalagi berdiskusi, udah gitu juga karena banyak pandangan orang lain yang berbobot gitu. seru deh pokoknya.
Wah ini seru banget sih. Dengerin suami istri ngobrolin hal-hal yang pasti ada beberapa orang yang bilang agak sensitif kalau diomongin secara gamblang. Tapi pas dengerin mereka jadi seru aja gitu. Oiya babibu juga ada versi youtubenya jadi bisa disesuaikan kalian lebih suka yang mana.
Nah kalo ini versi kolaborasi dari Box2Boxid sama maknatalks. Ini sesuai sih kaya deskripsinya,
"talks about the good things in life to keep you company"dan yang ngobrol disini itu ada Pangeran Siahaan, Iyas Lawrence dan Tio Utomo. tergambarkan kan gimana? Ya pokoknya kalau kalian tipe-tipe orang yang seperti saya lebih senang mendengarkan apalagi dengerin orang diskusi cerdas, podcast ini sangat recommend.
Selain merupakan platform fundraising, Kitabisacom juga punya akun youtube yang nggak kalah seru dengan akun youtube lainnya. Banyak berbagi pandangan, kisah, dan cerita yang mungkin banyak orang masih melihatnya belum biasa namun lewat kitabisacom hal-hal semacam itu disalurkan dengan cara yang sopan untuk mengajak siapapun yang melihat jadi tahu kalau di dunia ini nggak cuma kita sendiri yang punya cerita. Banyak orang-orang di luar sana yang juga punya kisah lebih menarik dari sudut pandang kita.
Paling suka sesi Pangeran Mingguan kalau di Asumsi karena bagi saya yang tidak menaruh ketertarikan yang lebih untuk politik, mendengarkan Pangeran Mingguan menjadi alternatif yang boleh juga buat dilakukan agar nggak buta-buta banget sama masalah yang ada di Indonesia khususnya bagian Politik. Tapi sesi-sesi lain juga banyak yang seru, kok.
Kalau ini creator Indonesia yang tinggal di Newyork. Saya suka karena beliau sering memberikan pandangan lain tentang Newyork edisi sederhana. Edisi sederhana maksudnya disini itu karena beliau sering memberikan informasi tentang sisi sederhana orang-orang di Newyork. Selain itu om Pinotski juga memberikan edukasi seru tentang mendidik anak. Pandangannya menurut saya asik dan nggak kaku.
Nggak tau kenapa saya tuh selalu suka follow orang-orang yang suka berbagi pandangan baru atau ngajak diskusi-diskusi kecil kayak yang sering di lakukan oleh Fellexandro ini. Oiya, beliau juga ada versi podcast nya yang nggak kalah seru sih. Materi-materi yang dibawa tuh ringan tapi isinya termasuk berat karena banyak menyampaikan informasi baru yang termasuk masih segar-segar juga.
Ini podcast terheboh yang pernah saya dengar. dipandu oleh Reza, Anka, Radhini, Abigail yang sudah pasti mereka sangat heboh, karena para pemandu nya memang benar-benar orang heboh semua. Se-relate itu sih sama kehidupan sehari-hari, ya emang karena isinya banyak banget menceritakan pengalaman mereka sehari-hari. Cocok di dengerin kalau lagi terjebak macet di sore hari menuju senja.
BagiKata ini merupakan agensi konsultasi, sih sebenarnya. Kalau mau tahu cara kerjanya di add aja di LINE.ini merupakan jalan baru untuk orang-orang yang ada masalah atau sekadar ingin mencari solusi bisa di obrolin sama tim BagiKata. Saya pernah kok curhat ke BagiKata dan cukup seru. Selain itu BagiKata juga ada sesi yang namanya Telaah, kalau menurut saya itu semacam workshop gitu. Baru kemarin juga di buka sesi ujicoba kelas online dan saya berkesempatan untuk mengikuti kelas online tersebut. Seru banget, di awalnya di buka oleh Kak Riojerbat dan pemateri nya Kak Badai. Cara penyampaian materi yang chill, dan helpful karena materi nya emang sangat dibutuhkan gitu.
Selain ada di LINE, BagiKata juga ada di podcast namanya BagiSuara. Tema-tema yang diangkat juga nggak kalah seru dan bermanfaat untuk buka wawasan.
*bakalan terus di update seiring berjalannya waktu.
Nah itu pada tau 'kan teman-teman beberapa akun atau platform yang kalau menurut saya sih berguna dan sangat worth-it untuk terus diikuti. Sekali lagi, mungkin ini memang cocok di saya tapi belum tentu cocok di kalian. Semuanya balik lagi sama diri kalian sendiri.
Pokoknya sosial media itu racun atau nggak nya, ya balik lagi sama diri kita sendiri. Hari ini kita menggunakan sosial media itu untuk apa dan bagaimana cara kita memakainya?
Baik buruknya sesuatu hal semua tergantung dari apa yang kita lihat sendiri dan inget, pandangan kita dan orang lain itu nggak sama tapi perbedaan itu wajar. Pokoknya untuk teman-teman yang merasa sosial media itu toxic, yuk deh mulai hari ini kita coba merubah pandangan kita. Tetap jadi orang yang kreatif dan terus gali rasa inisiatif kita.
Selamat menggunakan sosial media dan Selamat Hari Media Sosial Nasional.
Be positive, be creative.
ditulis oleh Anas Tasya Ayu Wibowo
pada tanggal 10 Juni 2019


